Secara bertahap perekonomian Sumatera Barat mulai bergerak positif setelah mengalami tekanan akibat dampak
gempa bumi tahun 2009 yang melanda kawasan tersebut. Dampak bencana ini terlihat pada triwulan IV-2009, dimana pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 0,90%. Namun demikian pertumbuhan ini relatif lebih baik dibandingkan perhitungan sebelumnya yang diperkirakan akan terjadi kontraksi 0,14%. Secara keseluruhan, pada tahun 2009 ekonomi Sumatera Barat tumbuh sebesar 4,16%, lebih baik dibandingkan perkiraan semula sebesar 3,92%. Dan pada triwulan I-2010 perekonomian Sumatera Barat diperkirakan akan dapat tumbuh sebesar 3,56%
Tenaga kerja
Sebagaimana di daerah lainnya di
Indonesia, pengangguran juga merupakan masalah yang belum teratasi di Sumatera Barat. Terhitung pada Februari 2010, jumlah angkatan kerja Sumatera Barat mencapai 2.273.111 orang, bertambah 92.145 orang dibandingkan dengan jumlah angkatan kerja pada Februari 2009 sebesar 2.180.966 orang. Selanjutnya jumlah penduduk yang bekerja di Sumatera Barat pada Februari 2010 telah mencapai 2.101.000 orang, bertambah sekitar 93.000 orang dibandingkan dengan keadaan Februari 2009 sebesar 2.008.000 orang. Sedangkan jumlah
pengangguran pada Februari 2010 mengalami sedikit penurunan dibanding dengan keadaan pada Februari 2009 yaitu dari 172.253 orang menjadi 172.084 orang pada Februari 2010, dimana terjadi penurunan jumlah penganggur laki-laki dari 97.690 orang pada Februari 2009 menjadi 89.187 orang pada Februari 2010 namun sebaliknya terjadi peningkatan jumlah penganggur perempuan dari 74.563 orang pada Februari 2009 menjadi 82.897 orang pada Februari 2010.
Pertanian & Perkebunan
Pada triwulan I-2010, sektor
pertanian mengalami pertumbuhan relatif tinggi, didorong oleh menggeliatnya subsektor tanaman
perkebunan. Pertumbuhan sektor pertanian diperkirakan dapat mencapai 6,41%, lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 3,87%.
Industri
Industri Sumatera Barat didominasi oleh industri skala kecil atau rumah tangga. Jumlah unit industri sebanyak 47.819 unit, terdiri dari 47.585 unit industri kecil dan 234 unit industri besar menengah, dengan perbandingan 203 : 1. Pada tahun 2001 investasi industri besar menengah mencapai Rp 3.052 milyar, atau 95,60% dari total investasi, sedangkan industri kecil investasinya hanya Rp. 1.412 milyar atau 4,40% saja dari total investasi. Nilai produksi industri besar menengah tahun 2001 mencapai Rp. 1.623 milyar, yaitu 60 % dari total nilai produksi, dan nilai produksi industri kecil hanya mencapai Rp. 1.090 milyar, atau 40% dari total nilai produksi.
Jasa
Kembali bergeraknya perekonomian Sumatera Barat pasca gempa serta semakin pulihnya perekonomian global terutama zona Sumatera bagian tengah juga merupakan faktor pendorong bergeraknya kembali sektor jasa (7,38%) walau tidak setinggi dibandingkan dengan pertumbuhan provinsi lain di sekitarnya.
Pertambangan
Sumatera Barat memiliki potensi bahan tambang golongan A, B dan C. Bahan tambang golongan A, yaitu
batu bara terdapat di kota
Sawahlunto. Sedangkan Bahan tambang golongan B yang terdiri dari
air raksa,
belerang,
pasir besi,
tembaga,
timah hitam dan
perak menyebar di wilayah kabupaten
Sijunjung,
Dharmasraya,
Solok,
Solok Selatan,
Lima Puluh Kota,
Pasaman, dan
Tanah Datar. Bahan tambang golongan C menyebar di seluruh kabupaten dan kota, sebagian besar terdiri dari
pasir,
batu dan
kerikil.
Keuangan & Perbankan
Perkembangan berbagai indikator perbankan pada triwulan I-2010 menunjukkan perbaikan seiring dengan pemulihan kondisi ekonomi pasca gempa. Penyaluran kredit oleh bank umum di Sumbar menunjukkan arah positif, meskipun masih relatif terbatas dan tumbuh melambat. Proses intermediasi perbankan umum di Sumatera Barat berlangsung dengan baik, meskipun lebih rendah dibandingkan pertumbuhan aset pada triwulan sebelumnya.
Transportasi
Transportasi udara dari dan ke Sumatera Barat saat ini melalui
Bandar Udara Internasional Minangkabau (BIM). Bandar Udara kebanggaan masyarakat Sumatera Barat ini berada di
kabupaten Padang Pariaman, lebih kurang 20 km dari pusat
kota Padang. Bandar Udara ini mulai aktif beroperasi pada akhir tahun
2005 menggantikan
Bandar Udara Tabing.
Transportasi darat untuk angkutan umum di kota Padang berpusat di
Terminal Bingkuang Air Pacah. Terminal ini melayani kendaraan umum antar kota antar provinsi (AKAP) dan antar kota dalam provinsi (AKDP). Distribusi jalur antar kota dalam provinsi dari Terminal Bingkuang Air Pacah akan berakhir di terminal angkutan umum tiap
kota atau
kabupaten di Sumatera Barat. Sedangkan untuk kota Bukittinggi berpusat di
Terminal Aua Kuniang, untuk
kota Payakumbuh berpusat di
Terminal Koto Nan Ampek, dan
kota Solok berpusat di
Terminal Bareh Solok .
Untuk transportasi darat lainnya,
kereta api masih digunakan untuk jalur dari kota
Padang sampai ke kota
Sawahlunto, yang melalui kota
Padangpanjang dan kota
Solok, pada jalur ini, kereta api dipergunakan sebagai sarana pengangkutan
batubara. Selain itu dari kota Padangpanjang ini juga ada jalur kereta api menuju ke kota
Payakumbuh yang melewati kota
Bukittinggi, namun sudah tidak aktif lagi. Sedangkan untuk jalur kereta api dari kota Padang menuju kota
Pariaman, masih digunakan untuk angkutan penumpang.
Transportasi laut dari dan ke Sumatera Barat berpusat di
Pelabuhan Teluk Bayur, kota Padang. Sedangkan untuk jarak dekat terutama untuk kapal ukuran sedang berpusat di
Pelabuhan Muara, pelabuhan ini antara lain juga melayani transportasi menuju ke
kabupaten Kepulauan Mentawai dengan menggunakan kapal feri atau
speed boat. Pelabuhan ini juga menjadi tempat bersandar kapal-kapal pesiar (
yacht) dan kapal-kapal nelayan.